tugas 7 manajemen kelas di sd
A. Prinsip-Prinsip Manajemen Kelas
1. Pengertian
Prinsip Dalam Manajemen Kelas
Prinsip-prinsip manajemen
kelas mengandung pengertian yaitu, proses pengelolaan kelas untuk menciptakan
suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif
(Rachman, 1999:11).
Pengelolaan kelas juga
dapat diartikan sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana
belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa
untuk belajar dengan baik dan sesuai dengan kemampuan (Ahmad, 1996:).
2. Permasalahan
dalam Prinsip Manajemen Kelas
a. Masalah Individu
Menurut M. Entang (1985:50)
masalah manajemen kelas dikelompokkan menjdi dua kategori yaitu
masalah individual dan masalah kelompok. Penggolongan masalah individual ini
didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada
pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk
memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal
mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan
bertingkah laku menyimpang.
Masalah individu muncul karena dalam
individu ada kebutuhan ingin diterima kelompok dan ingin mencapai harga diri.
Apabila kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat lagi dipenuhi melalui cara-cara
yang lumrah yang dapat diterima masyarakat, maka individu yang bersangkutan
akan berusaha dengan cara-cara lain.Menurut Rodolf Dreikurs (Rukman, Ade,
2006:58) perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik
digolongkan menjadi empat, yaitu:
1. Tingkah laku yang
ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors). Seorang pesertadidik yang
gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial
yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku
mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang
aktif dapat dijumpai pada peserta didik yang suka pamer,
melawak (memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus
menerus bertanya,membadut (aktif), atau serba lamban. Tingkah laku
destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai
pada peserta didik yang malas atau yang terus meminta
bantuan orang lain.
2. Tingkah laku yang
ingin menunjukkan kekuatan (power seeking behaviors). Tingkah laku
mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam.
Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya
pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan
menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif
tampak pada peserta didik yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga
tidak melakukan apa-apa sama sekali. Peserta didik ini amat
pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
3. Tingkah laku yang
bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
Peserta didik yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam
dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti
orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik sepertimencakar,
menggigit, menendang kepada temannya. Peserta didik seperti ini
akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik
misalnya dalam pertandingan. Peserta didikyang suka menuntut balas
ini biasanya lebih suka bertindak secara aktif daripada
pasif. Peserta didikpenuntut balas yang aktif sering dikenal sebagai peserta didik yang
ganas dan kejam, sedang yang pasif dikenal
sebagai peserta didik pencemberut dan tidak patuh (suka
menentang).
4. Peragaan
ketidakmampuan (Helplessness). Peserta didik yang
memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha
mencari sesuatu yang dikehendakinya yaitu rasa memiliki yang bersikap menyerah
terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan peserta didik ini
menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus
menerus. Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi ini biasanya
diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan diri. Sikap yang
memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Untuk membedakan keempat
tipe tersebut, dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap gejala yang
muncul. Dreikurs dan Cassel mengajukan satu teknik yang cukup sederhana untuk
mendeteksi gejala tersebut, dengan parameter sebagai berikut:
1. Jika guru merasa
terganggu oleh tindakan peserta didik, mungkin tujuan peserta didik adalah
untuk mencari perhatian.
2. Jika guru merasa
dikalahkan atau terancam, tujuan peserta didik tersebut mungkin untuk mencari
kekuasaan.
3. Jika guru merasa
sangat tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan
dendam.
4. Jika guru merasa tidak
berdaya, tujuan peserta didik mungkin untuk menunjukkan ketidakmampuannya.
Dari empat tindakan yang dilakukan
individu tersebut mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang
sering nampak pada peserta didik usia sekolah menurut
Rukman dan Ade, (2006:58), yaitu:
1. Pola aktif konstruktif
yaitu pola tingkah laku yang ekstrim, ambisius, untuk menjadi super star di
kelasnya dan mempunyai daya usaha untuk membantu guru dengan penuh vitalitas
dan sepenuh hati.
2. Pola aktif destruktif
yaitu pola tingkah laku yang diwujudkan dalam bentuk membuat banyolan, suka
marah, kasar, dan memberontak.
3. Pola pasif konstruktif
yaitu pola yang menunjukkan kepada satu bentuk tingkah laku yang
lamban dengan maksud supaya selalu dibantu dan mengharapkan perhatian.
4. Pola pasif destruktif
yaitu pola tingkah laku yang menunjukkan kemalasan (sifat pemalas) dan keras
kepala.
b. Kebijakan Tentang Prinsip Manajemen Kelas
1.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Undang-Undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Pasal 51 ayat 1
menyatakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan
minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah. “
2.
Peraturan Pemerintah No.
19 Tahun 2005
PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional
Pasal 49 ayat 1 mengemukakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang
ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan
akuntabilitas.”
3.
Permendiknas No. 19 Tahun
2007
Permendiknas No. 19 Tahun 2007 tentang Standar
Pengelolaan Pendidikan memuat secara terperinci tentang :
a) Perencanaan Program
b) Pelaksanaan Rencana
c) Pengawasan dan
Evaluasi
d) Kepemimpinan Sekolah
atau Madrasah
e) Sistem Informasi
Manajemen
f) Penilaian Khusus
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir. 2011. Manajemen
Kelas.Yogyakarta: Penerbit Zanafa Publishing.
Suyono dan Hariyanto.
2017. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
.
Sangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangattt bermanfaat sekaliiiiii
BalasHapusTerima kasih
BalasHapusBisa sabagai tambahaj refensi
BalasHapus