Tugas 6 manajemen kelas di sd
b. Pendekatan
Intimidasi
Pendekatan intimidasi
adalah pendekatan yang memandang manajemen kelas sebagai proses pengendalian
perilaku peserta didik. Berbeda dengan pendekatan otoriter yang menekankan
perilaku guru yang manusiawi, pendekatan intimidasi menekankan pada perilaku
guru yang mengintimidasi. Bentuk-bentuk intimidasi itu seperti hukuman yang
kasar, ejekan, hinaan, paksaan, ancaman, menyalahkan. Peranan guru adalah
memaksa peserta didik berperilaku sesuai dengan perintah guru.
Pendekatan intimidasi berguna dalam
situasi tertentu dengan menggunakan teguran keras. Teguran keras adalah
perintah verbal yang keras yang diberikan pada situasi tertentu dengan maksud
untuk segera menghentikan perilaku siswa yang penyimpangannya berat. Misal,
guru memergoki dua peserta didik berkelahi.kemudian guru bertindak “berhenti”
dengan harapan setelah mendengar suara guru kedua peserta didik itu akan
berhenti berkelahi. Kehadiran guru membuat mereka takut, takut karena mereka
membayangkan akan memperoleh hukuman yang sangat berat. Dengan demikian,
pendekatan intimidasi hanya baik untuk menghentikan perbuatan yang salah berat
dengan segera. Apabila perbuatan salah itu selesai atau berhenti maka tindakan
intimidasi tidak akan seproduktif strategi lain.
c. Pendekatan
Permisif
Pendekatan permisif adalah
pendekatan yang menekankan perlunya memaksimalkan kebebasan siswa. Tema sentral
dari pendekatan ini adalah: apa, kapan, dan dimana juga guru hendaknya
membiarkan peserta didik bertindak bebas sesuai dengan yang diinginkannya.
Peranan guru adalah meningkatkan kebebasan peserta didik, sebab dengan itu akan
membantu pertumbuhannya secara wajar. Campur tangan guru hendaknya seminimal
mungkin, dan berperan sebagai pendorong mengembangkan potensi peserta didik
secara penuh.
Pendekatan permisif sedikit
penganjurannya. Pendekatan ini kurang menyadari bahwa sekolah dan kelas adalah
sistem sosial yang memiliki pranata-pranata sosial. Dalam sistem sosial para
anggotanya, dalam hal ini guru dan peserta didik menyandang hak dan kewajiban.
Mereka diharapkan bertindak sesuai dengan hak dan kewajibannya dan diterima
oleh semua pihak. Perbuatan yang bebas tanpa batas akan memerkosa dan mengancam
hak-hak orang lain.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa
pendekatan permisif dalam bentuknya yang murni tidak produktif diterapkan dalam
situasi atau lingkungan sekolah dan kelas. Namun disarankan agar guru
memberikan kesempatan kepada para peserta didik melakukan urusan sendiri
apabila hal itu berguna. Urusan itu seperti para peserta didik memperoleh
kesempatan secara psikologis, memilkul risiko yang aman, mengatur kegiatan
sekolah sesuai cakupannya, mengembangkan kemampuan memimpin diri sendiri,
disiplin sendiri, dan tanggung jawab sendiri. Dengan demikian, guru harus dapat
menemukan cara untuk memberikan kebebasan sebesar mungkin kepada peserta didik
di satu sisi, di sisi lain tetap dapat mengendalikan kebebasan itu dengan penuh
tanggung jawab.
d. Pendekatan
Buku Masak
Pendekatan buku masak
adalah pendekatan berbentuk rekomendasi berisi daftar hal-hal yang harus
dilakukan atau yang tidak harus dilakukan oleh seorang guru apabila menghadapi
berbagai tipe masalah manajemen kelas. Daftar tentang apa yang harus dilakukan
dan apa yang tidak harus dilakukan ini biasanya dapat ditemukan dalam artikel:
Tiga puluh cara untuk memperbaiki perilaku peserta didik, misalnya karena
daftar ini sering merupakan resep yang cepat dan mudah, pendekatan ini dikenal
sebagai pendekatan “buku masak”. Berikut ini adalah cotoh khas jenis pernyataan
yang dapat dijumpai dalam daftar “buku masak”
Selalulah menegur siswa secara empat
mata
Jangan sekali-kali meninggikan suara
pada saat waktu memperingatkan siswa
Tegas dan bertindak adil sewaktu
berurusan dengan siswa
Jangan pandang bulu dalam memberikan
penghargaan
Senantiasalah meyakinkan diri lebih
dahulu akan kesalahan siswa sebelum menjatuhkan hukuman
Selalulah meyakinkan diri bahwa siswa
mengetahui semua peraturan yang ada
Tetaplah konsekuen dalam menegakkan
peraturan
e. Pendekatan
Instruksional
Pendekatan instruksional
adalah pendekatan yang mendasarkan kepada pendirian bahwa pengajaran yang
dirancang dan dilaksanakan dengan cermat akan mencegah timbulnya sebagian besar
masalah manajerial kelas. Pendekatan ini berpendapat bahwa manajerial yang
efektif adalah hasil perencanaan pengajaran yang bermutu. Dengan demikian
peranan guru adalah merencanakan dengan kebutuhan dan kemampuan setiap peserta
did
Oleh karena itu, para pengembang
pendekatan instruksional menyarankan guru dalam mengembangkan strategi
manajemen kelas memperhatikan hal-hal berikut ini: 1) menyampaikan kurikulum
dan pelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai, 2) menerapkan kegiatan yang
efektif, 3) menyediakan daftar kegiatan rutin kelas, 4) memberikan pengarahan
yang jelas, 5) menggunakan dorongan yang bermakna, 6) memberikan bantuan
mengatasi rintangan, 7) merencanakan perubahan lingkungan, 8) mengatur kembali
struktur situasi.
f. Pendekatan
Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan
perilaku didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi behaviorisme. Prinsip utama
yang mendasari pendekatan ini adalah perilaku merupakan hasil proses belajar.
Prinsip ini berlaku baik bagi perilaku yang sesuai maupun perilaku yang
menyimpang. Penganjur pendekatan ini berpendapat bahwa seorang peserta didik
berperilaku menyimpang adalah disebabkan oleh salah satu dari dua alasan
berikut: 1) peserta didik telah belajar berperilaku yang tidak sesuai, atau 2)
peserta didik tidak belajar berperilaku yang sesuai.
Pendekatan pengubahan perilaku dibangun
atas dasar dua asumsi utama yaitu: 1) empat proses dasar belajar, 2) pengaruh
kejadian-kejadian dalam lingkungan. Tugas guru adalah menguasai dan menerapkan
empat prinsip dasar belajar. Prinsip tersebut adalah penguatan positif,
hukuman, penghentian, dan penguatan negatif.
g. Pendekatan
Iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim
sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan
klinikal, dan karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan
antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas
yang efektif (dan pengajaran yang efektif) sangat tergantung pada hubungan yang
positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan
antar dan iklim kelas. Oleh karena itu, tugas pokok guru dalam manajemen kelas
adalah membangun hubungan antar pribadi yang positif dan meningkatkan iklim
sosio-emosional yang positif pula.
Glasser mengemukakan delapan langkah
untuk membantu peserta didik mengubah perilakunya berikut ini.
- Secara pribadi
melibatkan diri dengan siswa; menerima siswa tetapi bukan kepada perilakunya
yang menyimpang; menunjukkan kesediaan membantu siswa memecahkan masalah.
- Perilaku siswa;
menangani masalah tetapi tidak menilai atau menghakimi siswa.
- Membantu siswa membuat
penilaian atau pendapat tentang perilakunya yang menjadi masalah itu. Pusatkan
perhatian kepada apa yang dilakukan oleh siswa yang menimbulkan masalah dan
yang meyebabkan kegagalannya.
- Membantu siswa
merencanakan tindakan yang lebih baik; jika perlu berikan
alternatif-alternatif; bantulah siswa membuat keputusan sendiri berdasarkan
penilaiannya atas alternatif-alternatif yang ada untuk mengembangkan perasaan
tanggung jawab sendiri.
- Membimbing siswa
mengikatkan diri dengan rencana yang telah dibuatnya.
- Mendorong siswa
sewaktu melaksanakan rencananya dan memelihara keterikatannya dengan rencana
tersebut; yakinkan siswa bahwa guru mengetahui kemajuan-kemajuan yang
dibuatnya.
- Tidak menerima
pernyataan maaf siswa apabila siswa gagal meneruskan keterikatannya; bantulah
ia memahami bahwa ia sendirilah yang bertanggung jawab atas perilakunya;
ingatkan siswa akan perlunya rencana yang lebih baik; menerima pernyataan maaf
berarti tidak memusingkan masalah siswa.
- Memberikan kesempatan
kepada siswa merasakan akibat wajar dari perilakunya yang menyimpang tetapi
jangan menghukumnya; bantulah siswa mencoba lagi menyusun rencana yang lebih
baik dan mengikatkan diri dengan rencana tersebut.
Sementara itu Dreikurs dalam kaitan
dengan pendekatan sosio-emosional mengemukakan gagasan-gagasan penting yang
mempunyai implikasi bagi manajemen kelas yang efektif. Dua diantaranya ialah:
1) penekanan pada kelas yang demokratis dimana siswa dan guru berbagi tanggung
jawab, baik dalam proses maupun dalam langkah maju, 2) pengakuan akan pengaruh
konsekuensi wajar dan logis atas perilaku siswa.
h. Pendekatan
Proses Kelompok
Premis utama yang mendasari
pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi barikut: 1)
kehidupan sekolah berlangsung dalam lingkungan kelompok, yakni kelompok kelas,
2) tugas pokok guru adalah memnciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif
dan produktif, 3) kelompok kelas adalah suatu system social yang mengandung
cirri-ciri yang terdapat pada semua system social, 4) pengelolaan kelas oleh
guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya
suasana belajar yang menguntungkan.
Schmuck dan Schmuck dalam Weber
mengemukakan enam cirri mengenai manajemen kelas yaitu: harapan, kepemimpinan,
daya tarik, norma, komunikasi, dan keterpaduan.Harapan adalah persepsi yang
dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain.
Kepemimpinan paling tepat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok
bergerak menuju pencapaian tujuannya.
Daya tarik, menunjuk pada pola-pola
persahabatan dalam kelompok kelas. Daya tarik dapat digambarkan sebagai tingkat
persahabatan yang terdapat di antara para anggota kelompok kelas. Tingkat
daya tarik tergantung pada sejauh mana hubungan antar pribadi yang positif
telah berkembang. Pengelola kelas yang efektif ialah seseorang yang membantu
mengembangkan hubungan antar pribadi yang positif antara para naggota kelompok.
Keterpaduan adalah menyangkut perasaan
kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya.
Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu
keseluruhan. Kelompok menjadi padu karena alas an: 1) para anggota saling
menyukai satu sama lainnya, 2) minat yang besar terhadap pekerjaan, 3) kelompok
memberikan harga diri kepada para anggotanya.
i. Pendekatan
Eklektik
Menyimak secara seksama kedelapan
pendekatan yang telah diuraikan di muka adalah ibarat melihat benda yang sama
dari berbagai sudut pandangan yang berbeda. Oleh karena itu, seorang guru
harus mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan
menerapkan satu pendekatan. Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu
pendekatan secara utuh, melainkan mengkombinasikan masing-masing pendekatan
dengan mengambil hal-hal yang positif dari satu pendekatan seraya mengeliminir
kelemahan masing-masing pendekatan. Wilford A. Weber menyatakan bahwa
pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagai
pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan
yang bermakna, yang secara filosofis, teoritis, dan/atau psikologis dinilai
benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu
yang sesuai dengan situasi disebut pendekatan eklektik (Wilford A. Weber,
1986).
Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru
dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu: 1) menguasai pendekatan-pendekatan
manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan Pengubahan Perilaku,
Penciptaan Iklim Sosio-Emosional, Proses Kelompok, dan 2) dapat memilih
pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam
masalah manajemen kelas ( M. Endang dan T. Raka Joni, 1983: 43)
Simpulannya adalah bahwa kemampuan guru
memilih strategi manajemen kelas yang sangat tergantung pada kemampuannya
menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan Perubahan
Tingkah Laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan
dilakukan adalah menguatkan tingkah lakupeserta didik yang baik dan/atau
menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik; pendekatan Penciptaan
Iklim Sosio-Emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas
adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru dan peserta didik; sementaa itu
pendekatan Proses Kelompok dianut bila seorang guru ingin kelompoknya melakukan
kegiatan secara produktif.
j. Pendekatan
Analitik Pluralistik
Berbeda dengan pendakatan
eklektik, pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru
memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai
pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil
menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru
yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai
konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas
jangkauan pendekatan. Pendekatan analitik pluralistik berupa pemilihan
diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang
mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberi
kemudahan kepada pembelajaran yang efektif dan efisien.
Pendekatan analitik pluralistik tidak
mengikat guru pada serangkaian strategi manajerial tertentu saja. Guru bebas
mempertimbangkan semua strategi yang mungkin efektif. Terdapat empat tahap
pendekatan analitik pluralistik yang perlu dicermati dalam penggunaannya :
- Menentukan kondisi
kelas yang diinginkan
- Menganalisis kondisi
kelas yang nyata
- Memilih dan
menggunakan strategi pengelolaan
- Menilai efektivitas
pengelolaan
Pembelajarannya bagus
BalasHapusSemoga bermanfaay bagi sesama
BalasHapus